Connect with us

NEWS

Romo Magnis : Walk Out saat Anies pidato di Kanisius adalah penghinaan publik

Published

on

FOTO | ISTIMEWA

FINROLL.COM, JAKARTA -- Budayawan Franz Magis Suseno menyesalkan aksi walk out di Kolese Kanisius akhir pekan lalu saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpidato. Aksi yang dimotori oleh Ananda Sukarlan itu dinilai menunjukkan permusuhan pribadi dengan Anies.

Pria yang kerap disapa Romo Magnis ini mengatakan, aksi walk out tersebut di negara manapun, di luar pertemuan politik, jarang terjadi.

“Andaikata Gubernur mengatakan sesuatu yang tidak senonoh/jahat/menghina, walk out dapat dibenarkan. Tetapi walk out kemarin menunjukkan permusuhan terhadap pribadi Gubernur merupakan suatu penghinaan publik,” kata Romo Magnis dalam keterangan tertulisnya.

Anies Baswedan juga menurutnya adalah Gubernur sah DKI Jakarta yang dipilih secara demokratis. Karena itu ia menyayangkan saat sebagian peserta menggunakan kesempatan 90 tahun Kanisius untuk menunjukkan permusuhan terhadap Anies.

Magnis menilai, sikap yang benar yang seyogyanya ditunjukkan adalah, “Beri dia kesempatan untuk membuktikan diri, kita Katolik tidak bisa memilih negara di mana kita hidup, 57 persen pemilih Jakarta memilih Anies,” katanya.

Ia bahkan mencontohkan, seandainya Habib Rizieq Syihab dipilih menjadi Gubernur, Kanisius juga harus dapat hidup dengannya.

Terkait sikap Ananda Sukarlan, Magnis menilai itu adalah haknya untuk menolak Anies. Ananda tidak perlu dicurigai bersikap sektarian. Namun Magnis tetap tidak setuju dengan sikap walk out-nya. Menurutnya, sebagai tamu, Anies semestinya dihormati.

“Silakan panitia dikritik. Tetapi menginisiasikan suatu demonstrasi penghinaan terbuka terhadap Gupernur DKI saya anggap penyalahgunaan kesempatan,” katanya.

Ananda dan Magnis adalah dua dari lima alumnus Kanisius yang mendapat penghargaan dari sekolah khusus laki-laki itu. Tiga lainnya adalah Derianto Kusuma (pendiri Traveloka), Irwan Ismaun Soenggono (tokoh pembina Pramuka) dan Dr Boenjamin Setiawan (pendiri Kalbe Farma).

Ananda saat Anies berpidato berdiri dari kursi VIP-nya dan walk out. Komponis dan pianis ini mengaku tidak setuju dengan kehadiran Anies.

Aksi walk out Ananda kemudian diikuti oleh ratusan alumni dan anggota hadirin lainnya. Mereka kemudian kembali masuk ke ruangan usai Anies selesai berpidato dan meninggalkan acara.

Saat pemberian penghargaan kepada lima tokoh, Ananda yang mendapat giliran berpidato selama 10 menit mengkritik panitia penyelenggara karena mengundang Anies.

"Anda telah mengundang seseorang dengan nilai-nilai serta integritas yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan kepada kami. Walaupun Anda mungkin harus mengundangnya karena jabatannya, tapi next time kita harus melihat juga orangnya," ujarnya saat itu.

Ananda melanjutkan, "Ia (Anies Baswedan) mendapatkan jabatannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kanisius. Ini saya tidak ngomong politik, ini soal hati nurani dan nilai kemanusiaan."

Terkait aksi walk out ini, Anies mengaku menghormati perbedaan pandangan yang ada. 

"Saya memberikan hak kepada siapa saja untuk mengungkapkan dengan caranya," kata Anies.

Ia mengatakan, sebagai Gubernur DKI, menyapa dan mengayomi semua menjadi tanggung jawabnya.

"Kalau kemudian ada reaksi negatif, itu bonus saja buat saya. Biasa saja. Intinya, saya hormati perbedaan pandangan dan itu adalah hak setiap warga," kata Anies. (CNNINDONESIA.COM)

Dia adalah jurnalis senior khusus di bidang polhukam dan ekonomi

Trending Stories